Selasa, 22 April 2014

Cara Membuka Rezeki dengan Bioenergi



Salah satu kewajiban kita sebagai manusia adalah mencari nafkah dengan cara yang halal untuk diri pribadi, keluarga dan juga orang lain yang membutuhkan. Apa pun jenis pekerjaan kita, asalkan halal, tentu akan dilimpahi berkah oleh Tuhan. Namun pada kenyataannya, banyak diantara kita yang bertindak serakah, rakus atau tidak secukupnya dalam menjemput rezeki. Segala hal yang ada di dunia ini ingin dimiliki bahkan dengan harapan dapat dikuasai untuk mencapai kepuasan duniawi. Itulah hal yang sebenarnya akan menjauhkan kita dari rezeki.

Ini pula kasus hidup yang dialami oleh Bapak Joko dalam kehidupan masa lalunya. Ia berasal dari Bandung dan sejak muda ia telah membantu orang tuanya untuk melayani pembeli warung makan padang milik orang tuanya. Pada awalnya, warung makan padang tersebut laris manis, bahkan nyaris tidak pernah sepi sepanjang waktu. Hal tersebut dikarenakan harganya cukup murah dan menyajikan berbagai hidangan yang lengkap dan dengan resep masakan yang mengguncang lidah setiap penyantapnya.

Seiring bertambahnya usia, Bapak Joko tentunya ingin membangun sebuah rumah tangga. Akhirnya, ia menambatkan hatinya kepada seorang wanita asal Purworejo. Pada usia tiga puluh tahun, pak Joko menikah dengan wanita tersebut dan tinggal menetap di Bandung. Karena ingin mandiri, pak Joko berusaha mencari kerja dan akhirnya ia diterima bekerja di salah satu perusahaan yang ada di sana. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, selama dua tahun pertama pernikahannya, pak Joko bekerja sebagai supervisor di suatu perusahaan swasta yang bergerak di bidang pemasaran. Beberapa bulan setelah itu, ia tidak sanggup lagi menerima beban yang semakin berat dari atasannya hingga akhirnya pak Joko mengundurkan diri dari perusahaan tersebut. Dalam keadaan tersebut, ia tak ingin hanya berdiam diri di rumah tanpa melakukan sesuatu yang menghasilkan uang. Akhirnya, ia dan istrinya berencana membuka sebuah bisnis warung makan seperti yang dimiliki oleh orang tuanya. Suatu hal yang mengejutkan terjadi ketika pak Joko meminta saran akan rencananya ini kepada kedua orang tuanya. Pada saat itu, kedua orang tuanya justru menyerahkan bisnis warung makan padang yang sudah memiliki pasaran tersebut kepada ia dan istrinya. Ternyata orang tuanya ingin berhenti bekerja karena kelemahan fisik yang rata-rata dialami oleh orang yang telah berumur di atas 60 tahun. Dengan senang hati, pak Joko menerima tanggung jawab barunya dan bisnis warung padang tersebut akhirnya ia kelola bersama istrinya.

Kebahagiaan tersebut mereka rasakan sebagai anugerah Tuhan atas kehidupan mereka. Pak Joko menjadi sosok yang lebih rajin setelahnya dan ia tak lupa membimbing istrinya untuk memasak segala macam hidangan asal Padang agar memiliki cita rasa yang istimewa dan memuaskan konsumen tentunya. Semakin hari, pak Joko ingin meraih kesuksesan yang lebih besar dari apa yang ia terima sekarang. Ia berusaha mengalirkan uang lebih banyak dalam waktu yang singkat dengan memberi patokan harga yang lebih tinggi dari sebelumnya. Pada awalnya, hal tersebut tidak mempengaruhi loyalitas pelanggan. Namun semakin hari, mereka semakin jarang mengunjungi warung makan padangnya karena dirasa harganya terlalu mahal. Pada saat itu pun, pak Joko belum menyadari keadaan kritis yang sebenarnya sedang mengancam kelangsungan usaha dan hidupnya di waktu yang akan datang.

Dua bulan setelah itu, istrinya melahirkan seorang anak perempuan. Disitulah baru ia menyadari bahwa pengeluarannya ternyata lebih tinggi daripada penghasilannya. Bisa dikatakan pula bahwa ia mengalami ’besar pasak daripada tiang’. Ia tidak bisa lagi berbuat apa pun karena hanya warung makan itulah yang menjadi sumber utama mata pencahariannya. Sedangkan untuk melamar kerja ke perusahaan, tentu ia menyadari bahwa umurnya tidaklah muda lagi sehingga sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang cocok dan pastinya akan banyak perusahaan yang menolaknya. Akhirnya bersama istrinya, ia mendatangi beberapa orang pintar untuk melancarkan rezekinya kembali. Namun dari berbagai syarat yang telah ia penuhi ternyata tidak membawa hasil apa pun. Uangnya justru semakin menipis karena terkuras untuk membayar berbagai persyaratan yang diminta oleh beberapa orang pintar itu.

Suatu ketika, ia membaca sebuah media cetak dan disitu tertulis Eksplorasi Kekayaan Bioenergi, cara mudah untuk meraih kekayaan dan kesuksesan. Iklan yang menarik tersebut ternyata juga menarik dirinya untuk mengikuti program pelatihan tersebut. Pada saat itu, pak Joko sama sekali tidak mengetahui apa yang dimaksud dengan Bioenergi, apalagi manfaat yang akan didapatkannya. Setelah mendapatkan persetujuan dari sang istri, ia tidak ragu lagi untuk mengikuti program dari Bioenergi ini di Yogyakarta.

Pada saat pelatihan, ia mengikutinya dengan semangat dan perhatian yang lebih dibandingkan peserta lainnya. Kadang dia juga memberikan beberapa pertanyaan kritis yang sebenarnya juga berguna bagi seluruh peserta. Bapak Joko akhirnya sedikit demi sedikit mengerti akan makna Bioenergi. Apalagi ia juga tidak jarang menceritakan segala masalah hidupnya di hadapan peserta yang lain sehubungan dengan keadaan perekonomian keluarganya. Setelah mengikuti pelatihan selama 2 hari tersebut, dia menjadi lebih paham bahwa segala kekayaan, bahkan dunia beserta isinya adalah milik Sang Pencipta. Jadi, ternyata selama ini dia melakukan kesalahan besar dengan keinginannya untuk mendapatkan segalanya dengan cara yang mudah dan cepat. Hanya Tuhan yang memiliki, hanya Tuhan yang bisa memberi. Jadi, kapan pun dan dimana pun, Tuhan bisa mengambilnya kembali jika kita tidak bisa menjaga dan memanfaatkannya dengan bijaksana. Tentu limpahan rezeki dari-Nya bukan hanya untuk kebaikan diri kita sendiri, namun juga untuk orang lain yang membutuhkannya.

Terlihat raut wajah penuh penyesalan dari pak Joko pada saat itu. Mengapa ia harus serakah dengan menaikkan harga jual hidangan di warungnya? Mengapa ia berkeinginan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih, sementara ia sendiri tidak pernah memanfaatkan kelimpahan yang diberikan Tuhan untuk bersedekah kepada orang lain? Memang benar dan itu telah dituturkan oleh pak Joko sendiri bahwa semasa hidupnya, jarang sekali ia bersedekah, untuk memberi uang recehan saja dianggapnya berat, apalagi memberikan sebungkus nasi kepada fakir miskin. Padahal sebenarnya ia selalu berkelimpahan dalam hal makanan, namun ia sendiri tidak pernah memberikan barang sedikit pun bagi mereka yang kelaparan. Itulah nilai hidup yang telah ia lupakan. Ia tidak pernah memberi, tapi selalu berharap untuk menerima.

Tindakan pak Joko memang kurang mengasihi sesama selama ini hingga akhirnya ia harus merasakan sendiri hidup serba kekurangan dan tidak dapat mencapai apa yang diharapkan. Oleh karenanya, ia benar-benar merasakan kepedihan dan beban hidup yang beratnya luar biasa. Ia curahkan semua itu di hadapan saya saat jam istirahat pelatihan tersebut. Pada saat itu saya hanya mengatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup ini hanyalah berasal dari sebentuk pemikiran yang bersemayam dalam diri kita. Jika kita sekarang mengalami kegagalan, berarti sebelumnya kita telah berpikir dan bertindak untuk mencapai kegagalan tersebut, sekalipun tidak kita sadari. Satu kunci pokok yang harus kita pahami adalah Bioenergi. Jika kita memanfaatkan Bioenergi, kita tidak akan mungkin berpikir dan bertindak ke arah yang negatif karena secara otomatis energi negatif dari dalam diri kita akan hilang. Peran besar Bioenergi disini adalah menghilangkan energi negatif itu lalu menggantikannya dengan energi positif di dalam tubuh kita. Dengan begitu, kita tidak akan lagi berpikir tentang kegagalan, kesedihan, kecewa, miskin atau hal-hal negatif lainnya. Pada saat kita mampu merasakan dan memanfaatkan kecerdasan Bioenergi dalam tubuh, kita akan mencapai apa pun yang kita inginkan, karena pikiran yang terbentuk adalah segala hal yang positif, seperti kesuksesan, kebahagiaan, senyuman, kelimpahan dan lain sebagainya.

Setelah merenungi dan melakukan introspeksi diri secara mendalam, ia menjadi sadar bahwa segala hal di dunia ini tidak bisa kita kendalikan, kecuali oleh Tuhan. Segala hal yang ada di dunia ini tidak dapat kita capai, kecuali dengan usaha yang keras. Bahkan, segala hal yang telah kita miliki haruslah kita bagi kepada sesama karena jika tidak, Tuhan dapat mengambilnya kembali dengan menghentikan rezeki yang sebenarnya akan diberikan kepada kita. Sejak saat itu, pak Joko kembali bisa berpikir jernih dan membangun kembali kehidupannya mulai dari awal. Ia merintis kembali usaha warung makannya, sekalipun dengan modal seadanya. Ia juga mematok harga yang rendah untuk menarik banyak pengunjung. Ternyata usaha tersebut tidaklah sia-sia. Sekarang ia kembali menemukan kehidupannya dan mampu memenuhi kebutuhan istri dan anaknya. Ia juga mampu menghapuskan keserakahan dari dalam dirinya dengan memberikan sedekah kepada orang yang membutuhkan. Memang pada awalnya ia hanya mendapatkan laba yang kecil, namun semakin hari usahanya semakin laris. Kehidupannya bersama anak dan istrinya juga semakin harmonis.

Dalam kesuksesannya tersebut, ia menghubungi saya dan mengucapkan banyak terimakasih karena telah dibukakan pintu hati dan pikirannya sehingga ia dapat merasakan kecerdasan Bioenergi. Kini ia menjadi manusia yang semakin bersahaja dan berkualitas, bahkan ia juga berguna bagi orang lain. Kini pak Joko juga semakin rajin beribadah dan dalam hati kecilnya ia merasa menyesal mengapa dulu ia harus percaya dengan hal-hal yang berbau klenik, yang pada kenyataannya tidak membawa hasil apa pun. Jika sejak awal ia telah mengetahui manfaat Bioenergi, mungkin saat ini ia akan jauh lebih sukses dari apa yang ia raih. Namun, ia beserta keluarga sangat bersyukur karena Tuhan telah mengangkat mereka dari keterpurukan dan memberikan kelimpahan hidup yang luar biasa melalui kecerdasan Bioenergi.

Pengalaman Bapak Hendi Prajoko dari Bandung (45 tahun)


Jika Anda Sedang Menghadapi Berbagai Masalah, Segera Konsultasikan ke Syaiful M. Maghsri. Hotline: 0818278880, 085327271999, Office (0274)412446. 

Salam Sehat & Sukses Selalu



SHARE THIS
PelatihanSolusiBioenergi